Short Story: Yang Agung adalah Hari Ini
- Ruurimaru

- Jun 3, 2020
- 7 min read
Updated: Jun 23, 2020
Dua Hari Sebelum Hari Pernikahan,
Seorang wanita masuk ke kamarku.
"Hai," Sapa wanita itu, ia tersenyum kepadaku. "Aku bawakan bunga untukmu," Katanya.
Aku balas senyumnya dalam keadaan duduk di atas kasur, sambil membaca sebuah buku.
Ia kemudian mendekati meja dekat jendela. Di meja itu terdapat vas bunga kosong. "Sudah lama vas ini kosong, aku isi, ya," Katanya. Mengambil vas itu dan menambahkan air dari kamar kecil yang terdapat di dalam kamar.
"Nah," Ucapnya setelah selesai memasukkan bunga ke dalam vas itu. "Lihat, bunga itu tersenyum kepadamu."
"Syukurlah, terima kasih, Ann,"
"Bukan apa-apa," Jawabnya, lalu tersenyum kembali.
Senyuman Ann sangat manis, aku menyukainya.
Aku dan Ann menatap bunga itu cukup lama dalam keadaan hening.
"Lusa," Ann tiba-tiba memulai bicara. "Lusa hari pernikahan, ya?" Katanya.
"Iya, tidak terasa." Jawabku.
Kemudian hening kembali.
"Ann," Giliranku yang mulai bicara.
"Aku tau besok pasti akan sibuk, untuk mengurus segala keperluan pernikahan. Tapi, bolehkah aku meminta satu permintaan yang egois?"
"Apa itu? Katakan padaku?"
"Aku ingin kencan, meski itu hanya untuk sebentar."
Ann kemudian tertawa lembut.
"Ingin pergi kemana?" Tanya Ann.
"Ke taman? Sudah lama aku tidak pergi kesana. Maksudku, sejak aku dalam keadaan seperti ini, aku hampir tidak pernah keluar."
"Kalau aku sih tidak masalah, tapi apa tubuhmu baik-baik saja?"
"Tentu saja. Aku sangat percaya diri. Itulah sebabnya aku ingin kita kencan untuk sebentar."
"Sudah bilang ke dokter?"
"Tidak apa-apa, katanya"
"Ya sudah kalau begitu, besok kita pergi" Balas Ann, tersenyum kembali.
Ann memang banyak tersenyum kepadaku, Ia menjadi penghilang rasa bosan ketika aku hanya bisa berbaring di kamar ini.
Tak lama kemudian, suara panggilan telepon dari ponsel Ann berbunyi. Ia mengangkatnya dan mulai berbicara. Sepertinya sebentar lagi ia akan pergi.
"Maafkan aku, ibuku menyuruhku untuk mengganti gaunnya. Padahal aku sudah cukup suka dengan gaun yang sebelumnya."
"Pergi sana ih. Aku tau kamu memang tidak terlalu memperhatikan penampilan, tapi ini kesempatan sekali seumur hidup. Meskipun aku yakin kamu terlihat cantik memakai apapun, tapi pergilah. Pilihlah yang terbaik dan jadilah yang paling cantik."
Ia tersenyum. "Aku akan pakai yang terbaik," Katanya. "Ya sudah, aku pergi dulu. Sampai jumpa, nanti aku hubungi lagi"
Aku melambaikan tangan. Kemudian kembali kepada buku yang aku baca setelah Ann menghilang dari pandanganku.
Satu Hari Sebelum Hari Pernikahan,
Sore hari, aku menunggu di tempat yang sudah dijanjikan. Tidak lama kemudian, Ann memanggilku dari seberang jalan. Ia melihat ke kiri dan ke kanan jalan memastikan tidak ada mobil, kemudian berlari menyebrang ke arahku. Ia menggunakan pakaian kasual biasa, tapi dipilih dengan sangat baik. Tidak biasanya ia memadukan pakaian yang ia kenakan. Biasanya ia akan seadanya saja. Apa gara-gara yang aku ucapkan kemarin?
"Hari ini kamu terlihat sangat cantik," Ucapku, ketika ia berada tepat di depanku.
Wajah Ann memerah. "Jangan langsung muji gitu, aku belum siap."
"Hehe, maaf-maaf. Yuk berangkat?"
"Bentar, bagaimana keadaanmu?"
"Sempurna!"
"Syukurlah. Yuk, Berangkat!"
Kami berangkat ke sebuah taman yang memiliki danau kecil. Taman itu terletak di tengah kota, tak jauh dari tempat kami bertemu. Sehingga kami memutuskan untuk berjalan kaki.
Memang bukan sebuah tempat yang meriah atau sebagainya. Hanya ada taman, danau, pohon-pohon dan beberapa tempat makan. Tapi, banyak orang yang datang kemari, entah untuk mencari udara segar, berolahraga, atau jalan-jalan bersama hewan peliharaan mereka.
Begitupun dengan kami, berjalan tanpa tujuan mengelilingi taman dan menikmati danau yang tenang. Membicarakan hal sepele, mendebatkan berapa jarak dua pohon yang berdiri bersebrangan, menikmati sebuah crepe yang dijual oleh pedagang roda, saling mencicipi, begitulah. Tidak terlalu spesial sebagai sebuah acara kencan. Tapi, bagiku yang tidak pernah pergi jauh dari tempat tidur selama hampir tiga tahun, ini sangat berarti.
"Cape? Mau istirahat dulu?" Tanya Ann, setelah kami cukup lama berkeliling di taman
"Ya, aku rasa," Jawabku.
"Ya sudah kalau gitu, kita duduk di kursi yang sana, ya?" Ia menunjuk pada sebuah kursi kosong menghadap ke danau.
"Kamu duluan kesana, aku mau beli minum dulu," Katanya.
Aku mengiyakan kemudian duduk di tempat yang ia tunjuk. Anginnya terasa nyaman dan tenang. Begitu pula danau yang sedang aku pandangi. Apa danau itu juga sedang merasakan betapa nyamannya angin disini?
Tak lama kemudian Ann kembali dan duduk disampingku sambil membawa dua botol air mineral di dalam sebuah kresek putih.
"Nih," Katanya, menyerahkan satu buah air botol mineral yang sudah dibuka tutupnya.
"Terima kasih, ucapku. Maaf malah kamu yang direpotin."
"Alah, segini mah enggak apa-apa,"
"Terima kasih banyak."
Aku kemudian meneguk air itu. Tenggorokanku terasa lebih segar.
Aku melihat ada yang berpacaran diatas perahu. Ternyata masih ada yang menyewakan perahu itu. Setiap kali datang kemari dulu, Ann selalu mengajakku naik, tapi aku menolak karena takut berdiri diatas air.
"Ann, mau naik itu?" Tanyaku.
Ann terkejut atas pertanyaanku. "Serius? Bukannya kamu takut?"
"Kata siapa aku takut? Sok tahu," Aku mencoba pura-pura kuat.
"Alaaah, dulu diajak aja suka gak mau,"
"Lagipula kalau dipikir-pikir, kalau kita berada diatas perahu ya artinya kita tidak diatas air kan. Tapi diatas perahu, iya gak?"
"Apaan sih, gak ngerti."
"Aihh, jangan gitu atuh. Aku sedang mengumpulkan keberanian ini."
"Ahaha, enggak usah maksain diri juga,"
"Yuk ah naik. Daripada tidak ada kesempatan lain, mumpung sedang berani," Kataku.
"Awas loh, kalau ditengah tiba-tiba ketakutan, panik, dan malah bikin aku lebih panik."
"Ya, kamu jangan panik kalau gitu,"
"Hih, dasar. Ya sudah, yuk!"
Akhirnya kami pergi ke tempat penyewaan perahu.
Ternyata biaya penyewaannya tidak terlalu mahal. Mungkin karena tidak ada asuransi keselamatannya. Aku jadi menelan ludah.
"Kenapa? Tiba-tiba takut lagi? Enggak ah, jangan gak jadi. Aku udah lama pengen naik ini bareng kamu,"
"E-enggak kok,"
Gilaaa baru saja satu kaki yang naik, perahu sudah bergoyang diatas air. Serem! Apa ini tidak berbahaya? Tapi, pasangan tadi yang aku lihat tidak apa-apa. Ditambah kalau aku membatalkannya, aku bukan laki-laki. Harus maju!
Aku kemudian duduk menghadap ke belakang. Ann naik dan perahu bergoyang kembali. Aku mencoba menahan rasa takutku. Aku yakin Ann bisa melihat ketakutan hanya dari wajahku saja. Tapi Ann, membiarkannya, dan malah tersenyum atau lebih tepatnya mengejekku.
Ann kemudian duduk di tempat dayung menghadap ke arahku. Ann yang memegang dayungnya karena tubuhku lemah. Ia kemudian tersenyum senang sekali. Melihatnya tersenyum seperti itu rasa takutku sedikit berkurang.
Perahu itu di dorong oleh pria tua yang menyewakannya.
Kemudian Ann mendayungnya secara perlahan dan stabil.
"Padahal sama aku aja, dayungnya," Ucapku.
"Tidak apa-apa, itung-itung lagi ngeulangtahunin kamu,"
"Hmmm, Iyaa iyaaa..."
Kami tidak banyak bicara. Hanya menikmati suasana setiap detiknya.
Ann kemudian berhenti mendayung ketika kami berada di tengah danau. Ia melakukan peregangan bahu-bahunya. Sepertinya mendayung cukup menguras tenaga.
"Ahhhhh," Ann mengangkat kedua tangannya seperti seekor kucing yang baru bangun tidur. Kemudian menatapku. "Hari ini, aku merasa sangat senang, hehe" Ucapnya kemudian tersenyum lebar dan kembali mendayung.
Aku terkejut dengan apa yang ia ucapkan. Untuk sesaat aku merasa senang, dan sesaat selanjutnya aku hatiku terasa sesak. Kenapa ya?
"Kenapa diam saja, hei? Aku jadi malu ngomongnya kalau kamu diam gitu," Ucap Ann.
"Ah, enggak. Hanya saja aku terkejut kamu mengatakan itu. Aku juga senang dan sangat bahagia. Ini adalah hari terbaikku. Terima kasih Ann,"
Kali ini Ann yang terdiam. Ketika aku melihat matanya, ia memalingkan. Wajahnya memerah.
"Kenapa kamu sekarang yang diam, apa kamu jadi takut diatas air juga?"
"Enggaklah!" Balas gadis itu dengan cepat.
"Hahaha, syukurlah. Kalau kamu ketakutan, aku yang kerepotan,"
"Dasar."
Akhirnya, tidak lama setelah itu kami kembali ke daratan.
Hari mulai gelap. Tidak terasa. Setelah itu, kami memutuskan untuk pulang. Kami berjalan bersama ke tempat kami pertama bertemu tadi sore. Disitu tempat kami akan berpisah, dan berpamitan.
"Terima kasih untuk hari ini, aku senang" Kataku.
"Aku juga, terima kasih."
Aku tersenyum. "Ngomong-ngomong Ann,"
"Ya?"
"Ucapkan maafku padanya, calon suami kamu."
Ann diam sejenak. Ia menatapku begitu dalam. Aku tahu apa yang ingin ia katakan.
"Aku tahu. Maafkan aku, ini semua salahku."
"Kenapa kamu pergi begitu saja?"
"Ann.."
"Tidak mengabariku sekalipun, kenapa? Kau pikir aku akan meninggalkanmu hanya karena itu? Yang benar saja! Setidaknya biarkan aku berada disampingmu, dasar bodoh!"
Ann berteriak kepadaku.
"Setidaknya.., setidaknya..."
Ucapannya tidak dilanjutkan, tertahan oleh air mata yang mulai berjatuhan. Sekali lagi, aku tahu apa yang ingin ia katakan. Percakapan ini pernah terjadi sebelumnya. Setidaknya hari pernikahannya tidak berbarengan dengan operasi yang akan aku jalani besok.
Aku mendekatinya, kemudian memeluknya.
"Aku mencintaimu, loh! Selalu! Tapi kenapa kamu?!" Dalam pelukanku, Ann berteriak sambil memukul menggunakan tangannya yang lemah.
"Jangan berkata seperti itu. Besok kamu akan menikah. Tidak seharusnya kamu berkata seperti itu kepada selain suamimu,"
"Arggh, menyebalkan!"
Ann mendorongku, dan mengusap air matanya.
Aku tersenyum padanya. "Tersenyumlah," Kataku. "Hari ini, adalah hari terbaikku. Aku tidak ingin mengakhiri hari ini dengan melihat tangisanmu. Dan besok adalah hari terbaik kalian berdua, aku harap kamu tersenyum sebagaimana yang biasa kamu lakukan. Kamu paling cantik saat tersenyum."
Air matanya tidak kunjung berhenti, tapi bibirnya tersenyum kepadaku.
...
Setelah semuanya mereda dan berbaikan, aku memanggilkan taksi untuk Ann. Aku pulang setelah Ann menghilang dari pandanganku.
Ketika aku sampai ke kamarku dan menjatuhkan tubuhku ke kasur, bagian hati dan jantung tidak bisa berhenti terasa sakit. Aku ingin menangis tapi tidak bisa. Aku ingin berteriak tapi tidak ada sedikitpun suara yang keluar dari tenggorokan. Rasa sakit ini tidak ada kaitan apapun dengan penyakit yang aku derita.
Hari Pernikahan
Hai! Apa kabar?
Aku tidak tahu bagaimana memulai sebuah surat, hehehe.
Bagaimana operasinya? Aku harap berjalan lancar.
Segala persiapan pernikahanku berjalan lancar. Dan mungkin akan terus lancar sampai akhir.
Aku belum memaafkanmu karena tidak pernah mengabariku soal penyakit dan apa yang kamu hadapi. Yah, biarlah.
Tapi, aku ingin minta maaf atas apa yang terjadi saat kita akan pulang. Aku tidak seharusnya mengatakan itu. Aku mencintai suamiku saat ini. Dia orang yang baik, sepertimu.
Aku sudah menyampaikan maafmu, dan dia memaafkan. Malah dia ingin bertemu denganmu dan berterima kasih kepadamu.
Karena itu, aku berdo'a operasimu lancar. Aku harap kita tetap menjadi teman.
Aku belum memberitahumu, tapi kami akan pindah kota setelah menikah. Kami akan menunggumu di rumah baru kami setelah kamu sehat.
"Ann! Dimana kamu? Upacaranya akan dimulai,"
"Iya sebentar lagi,"
Ini alamat baruku,
XXXX,XXXXXXXXXXXXXXXX
Ann,
...
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya seorang dokter, kepadaku.
"Aku baik-baik saja,"
"Baiklah kalau begitu, kami akan segera memulai operasinya."
"Mohon bantuannya."
Ann, maafkan aku. Mungkin kamu berharap operasiku berhasil. Sayangnya, dokter bilang kemungkinan berhasilnya kecil. Tapi begitu lebih baik. Aku tidak ingin merasakan sakit lagi saat memikirkanmu.
Apa yang telah aku lakukan adalah kesalahanku.
Meninggalkanmu, karena aku begitu pengecut untuk terlihat lemah dan meminta bantuanmu,
Pada akhirnya, aku memang pengecut dan selalu menjadi yang ditolong olehmu.
Kamu wanita terbaik, Ann. Lakukan yang terbaik juga untuk suamimu.
Tak ada yang perlu kamu sesali.
Hari terbaikku adalah kemarin.
Dan hari ini adalah akhirnya.
Ya, ini yang terbaik bagiku.
Selamat tinggal, Ann
...
Tamat.
Comments